Tampilkan postingan dengan label CerPen Silat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CerPen Silat. Tampilkan semua postingan

TAPAK PRAHARA II (*)

Getar alam getar kehidupan, Luka alam luka kehidupan


(*) Silakan baca kisah tapak prahara sebelumnya di blog ini.


Segalanya tampak belum berubah, seolah tidak ada pertumbuhan dan pergerakan apapun selama lebih dari sebulan aku tinggalkan tempat ini. Terakhir kunjungan ku adalah saat pertaruhan hidup matiku menghadapi tapak prahara… suatu kekuatan maha dahsyat yang dimiliki oleh seorang yang kemudian ku tahu menamakan dirinya dengan sebutan Kyai Naga Geni.

Tak tahu apa yang membawa ku kemari…seolah ada bisikan yang kuat untuk menemukan sesuatu yang hilang. Suara bisikan itu masih terus mengumandang dikepalaku…bergumam…berbicara sesuatu dengan lirih, bahwa aku harus mendapatkannya…Tapi apa ? apa yang harus aku dapatkan dari tempat ini ? sebuah tanah kosong ditepi hutan, dengan kondisi porak poranda. Sebagian pepohonan tampak hangus terbakar.. bebatuan pecah berserakan, pokok-pokok dahan sebesar lengan berpatahan, dan menghitam…bahkan tanah pun masih tampak seperti sawah yang baru selesai dibajak..! sekilas terbanyang kembali pertempuran paling gila yang pernah ku alami ditempat ini sebulan lalu.. Walau sudah lewat sebulan, anehnya semua itu masih pada tempatnya..seolah waktu tidak bekerja disini. Seolah baru beberapa menit yang lalu pertempuran itu terjadi.

Perlahan aku berjalan agak ke tengah lapang, dan berdiri disebelah sebuah batu padas hitam sebesar kerbau… Seluruh tubuhku serasa meremang saat terbayang kembali betapa dahsyatnya kedua tangan lawanku yang telapaknya merah membara, yang ayunannya menyambar-nyambar dengan udara panas yang terpancar dengan kuat dari tiap geraknya.. pancaran udara panas itu begitu tajam menusuk, seolah meresap keseluruh lapisan kulit, daging dan mencengkram tulangku..belum lagi panas yang ditimbulkan dari tubuhnya yang pada jarak tertentu membuat layu dedaunan dan tanaman disekitarnya.
Aku tercenung…rasanya memang hanya keajaiban yang membuatku sampai saat ini masih dapat merasakan hangatnya matahari pagi.

Aku berdiri tegak ditempat, kugeser kaki kanan ku selangkah kesamping. Perlahan ku tutup mataku, kurasakan semilir tiupan angin pagi, kudengarkan gesekan dahan dan ayunan daun dipepohonan…tidak ada kicauan burung ataupun suara hewan lain disini. Aku menikmati keadaan itu untuk beberapa lama, tanpa tau apa yang ku cari…sampai sebuah hentakan keras mengguncang dadaku….

…TAPAK PRAHARA !.....

Kesadaran itulah yang seolah meremas jantungku…. Kesadaran bahwa saat ini aku menginginkan Tapak Prahara lebih dari apapun didunia ini. Aku yang baru saja nyaris menjadi korban Tapak Prahara, Menginginkan untuk memilikinya…menguasainya… menjiwainya …menyatukan dengan seluruh jiwa ragaku…. Badanku menggigil hebat, kebingungan yang sangat mencekam pikiranku…kenapa… kenapa justru tapak prahara ? ilmu yang dibenci oleh orang-orang disekitarku, termasuk kedua guruku kakak beradik, bahkan eyang guru sendiri. Ilmu yang cenderung dihindari oleh mereka dalam benturan langsung… ilmu yang kemungkinan besar justru yang telah menewaskan ayahku sendiri. Bagaimana pula aku dapat menguasainya ? bagaimana dengan kemampuanku, yang selama ini hanya mengandalkan jurus seribu naga dan malaikat menari yang jauh dari sempurna itu, dapat menguasai ilmu ini ?

Hari itu, sampai matahari bergeser ke barat, dan aku kembali kerumah, aku belum dapat menemukan jawabnya… demikian pula hari-hari sesudahnya. Aku jadi lebih banyak termenung…latihan ilmu silat yang diberikan kedua guruku sudah tidak menarik minatku lagi. Ajakan bahkan ejekan dari teman-teman seperguruanpun hanya angin lalu. Aku merasa tidak mungkin membicarakan keinginanku ini dengan siapapun. Karena orang-orang sekitarku ini tentu akan mencemooh….Tapak Prahara sudah dianggap ilmu kotor…Tapak Praharapun dianggap ilmu yang maha dahsyat…sedangkan diperguruanku ini, kemampuanku masih jauh tertinggal dari teman-teman sebaya..walau, akulah satu-satunya orang yang justru pernah mengalahkan ilmu ini…justru dengan kepasrahanku. Teman-temanku, dan kedua guruku tidak pernah mengetahui bahwa aku sendiri lah yang sudah menghentikan Tapak Prahara yang dilontarkan oleh Kyai Naga Geni itu, karena aku selalu mengatakan kepada mereka bahwa Eyang Guru lah yang sudah menolongku mengalahkan ilmu ini. Merekapun mempercayainya, karena eyang guru semenjak peristiwa itu tidak pernah terlihat lagi dikediamannya. Waktu itu Eyang guru pergi sambil membawa tubuh lawanku yang sudah tak berdaya itu… sampai saat inipun beliau tak pernah menemuiku lagi. Sehingga, beliaupun tidak dapat aku mintakan pendapatnya atas keinginan gilaku ini. Pada suatu malam, Paman Nur, demikian kami biasa menyebut yang tertua dari kedua guruku, memanggilku di teras samping rumahnya yang besar, yang memang sering menjadi tempat kami berlatih. Saat aku mendatanginya, beliau sedang duduk diatas tikar pandan, diterangi oleh cahaya lampu minyak yang temaram…memandang kejauhan.

“Salam Paman…… Paman memanggilku ? Sapaku.
“ Duduklah…..” suara paman terdengar pelan dan dalam…
Aku duduk bersila diatas tikar, dua langkah didepan guruku itu, tanpa berkata sepatah kata pun. Setelah berbasa basi menanyakan kesehatanku, paman Nur menanyakan pertanyaan yang sudah ku duga sebelumnya, termasuk arahnya…. “Apa yang mengganggu pikiran mu….? Apakah kau merindukan eyang guru mu ?... aku hanya dapat membisu….aku tak ingin berdusta kepada paman, tapi tak ada pula keinginan menjelaskan hasrat dan pikiranku padanya….
Satu hal yang mengejutkanku adalah pernyataannya, walau suaranya terdengar pelan…. “aku tahu kau lah yang mengalahkan Kyai Naga Geni…” aku tetap berdiam diri, namun seribu pertanyaan bergolak didadaku… agaknya paman dapat membacanya dari sorot mataku…. “Eyang Guru datang menemuiku sebelum beliau menghilang”, kata paman lirih, lalu masih sama pelannya, beliau menyambung perkataannya “Eyang sudah menjelaskan semuanya…bagaimana engkau menguasai kemampuan mu yang luar biasa itu, sampai bagaimana engkau bisa mengalahkan lawan mu yang dahsyat itu..”. Aku mengerutkan keningku “Aku murid yang malas berlatih, guru….Aku mengalahkannya dengan tidak sengaja…waktu itu aku sudah pasrah, kemampuanku jauh dibawah lawan ku itu..” potong ku. Paman hanya tersenyum kecil mendengar ucapanku. Beliau kemudian meneruskan perkataannya ..”sejak awal aku sudah melihat bakat mu yang terpendam jauh didalam dirimu, ngger…tidak ada mahluk diseluruh desa ini yang memiliki bakat sebesar dirimu.. agaknya bakat itu turun dari ayahmu…” sambil melempar tatapannya kekejauhan, paman guru menyambung..” Dengan bakat sebesar itu, kami paman-paman guru mu, bahkan termasuk eyang guru mu, sebenarnya merasa tidak pantas memberimu pelajaran…semuanya yang sudah kami berikan adalah kemampuan yang tak berarti.. kami sebenarnya hanya berharap bisa mengantar mu menemukan kunci dari seluruh kemampuanmu. Setelah kau dapatkan kunci itu, bukalah… tak ada lagi mahluk didunia ini yang bisa menghentikan mu, bahkan tak ada yang bisa lagi menandingimu…” Aku terpaku ditempat dudukku..”guru, yang guru berdua berikan padaku, sangat banyak dan berguna…malah yang aku bisa capai mungkin belum ada separuh ilmu yang guru kuasai…apalagi ilmu dari eyang guru… bagaimana bisa guru merasa tidak pantas untuk mendidikku…? Bila kebodohan dan kemalasanku akhir-akhir ini menyinggung perasaan guru, aku mohon ampun…. Aku berjanji untuk memperbaiki diri…”kataku bergetar.. “lagipula, kalaupun guru merasa berat, kenapa sampai sekarang masih mengajariku ? kataku polos….Sekali lagi guru hanya tersenyum sambil mengangguk angguk kecil..”kau belum mengerti ngger..” sambungnya..”kami memang merasa tidak pantas, karena bakatmu yang luar biasa…tapi kami memang berkewajiban memastikan agar kau tidak jatuh ke tangan yang salah, yang akan berakibat engkau berada diarah dan jalan yang salah pula.., disamping itu, kau adalah putra satu-satunya dari almarhum kakak seperguruanku…” guru kemudian terdiam lama… aku pun termenung pula tanpa banyak mengerti apa yang harus kuucapkan, apa yang sebenarnya harus aku pikirkan… di kepalaku masih selalu terbayang Tapak Prahara… Tapi tak ada keberanianku untuk membicarakannya dengan paman guruku yang baik ini.

Suatu saat, dipagi yang hening, entah untuk keberapa kalinya aku mengikuti bisikan dikepalaku untuk berkunjung ke lapangan kecil bekas tempatku bertempur itu…tempat yang seolah beku oleh waktu, tidak bergerak, tidak ada pertumbuhan, telah menyadarkanku… menyadarkanku bahwa ditempat ini bisa kutemukan tapak prahara…tempat ini telah merekam segalanya.. telah merekam segala jurusnya, seluruh getar ilmunya…Setiap permukaan daun, tetesan embun dari pucuk daun, reruntuhan bebatuan, dahan-dahan yang hangus berserakan seolah bercerita kembali, memutar kembali rangkaian jurus dan ilmu Tapak Prahara secara sempurna. Dalam hembusan udara masih terbayang lontaran tubuh lawanku melayang dan menyerang …semuanya masih tergambar jelas dengan rinci. Tempat ini adalah guru yang sempurna bagi niatku… Inilah kunci dari ilmu yang dimaksud paman guru, pikirku..aku harus memasukinya, dan menguasainya hingga tuntas ! tekadku.

selanjutnya, hampir setiap hari dan setiap malam aku mengunjungi tempat itu…


AKU BERGURU

Aku duduk bersila, kupusatkan seluruh panca inderaku…kutebarkan seluruh kesadaranku……..

AKu Berguru pada alam…….
Aku berguru pada merdunya getar dedaunan ….
Aku berguru pada rintik hujan yang menyegarkan……
Aku berguru pada halusnya embun di rerumputan….
Aku berguru pada tiupan lembut angin yang membelai……
Aku berguru pada kilatan petir yang memberikan sepercik terang digelap malam…
Aku berguru pada hangatnya api yang bersahabat…
Aku berguru pada buaian melodi dewa dewi
……..
Semua terasa indah…… Aah inikah tapak prahara… andai kutahu nikmatnya ilmu ini sebelumnya, tak hendak ku memikirkan hal lain…..
Namun, gejolak muda ku berkata lain…tapak prahara bukan ilmu orang-orang tua yang duduk sore sambil mengantuk mendengar kicau perkutut……

Aku terus mencari………..
……..Tak berlari…tak kemana-mana…..
Wahai……….
………………….Wahai………………….
Wahai………………………
………..Siapapun Kamu…………..Beri aku yang terdahsyat………..

…….Wahai badai yang menghantam….
…….. awan yang gelap……..
aku berguru pada mu sekalian….

Berguru pada mu…..
……..Wahai cakar yang mengiris…..
…………….Taring yang meringis……
Berguru pada mu…..
………Wahai karang yang kokoh……
………Wahai Padas yang menghujam……
Berguru pada mu….
………Wahai petir yang menghanguskan…..
………Wahai api yang membara……..
……….Wahai udara yang bergolak……
……… Wahai Air yang membuat terselak…
……….Wahai kabut yang pekat.....
......................dan Asap yang menghentikan nafas !.......

Aku Berguru pada mu Wahai Setan Alas, Iblis, Jin, Genderuwo,……
…… dan seluruh kuasa hitam…..……
Aku berguru……..
nyalakan Bara api Neraka mu…………………

(Tanpa aku sadari pengaruh kegelapanpun merasuki jiwa, nafas dan nafsuku….)
……………………………………………………

Setelah hampir 3 bulan berlalu, dan satu minggu terakhir aku habiskan tanpa jeda ditempat itu dengan nyaris tanpa sesuap nasi ataupun seteguk air… badanku pun terkapar tak berdaya. Dalam beberapa hari terakhir rupanya aku terlalu melihat kedalaman ilmuku tanpa memperdulikan keseimbangan tubuhku… tanpa memperhatikan makan dan minumku yang secara alamiah tetap dibutuhkan.. terutama setelah aku memeras seluruh tenaga dan pikiranku, memutar ulang tiap jurus, tiap gerak dan getar dari ilmu Tapak Prahara yang dahsyat itu.. Beruntung, hujan yang deras mengguyur tempat itu, air yang jatuh kuteguk sebanyak-banyaknya… menyegarkan kembali seluruh urat nadiku, memulihkan segenap tenagaku.

Aku berdiri tegak dengan mata menyala….. perlahan kedua telapak tangan ku yang mengembang dan membara terangkat….bersamaan dengan itu, batu hitam sebesar kerbau beberapa langkah didepan ku, bergetar hebat….. dan dengan satu hentakan batu tersebut pecah berserakan terlontar keudara…. Pecahannya menyebar kedepan dan keatas…batu-batu yang pecah menyebar tersebut menjadi panas dan membara, seperti baru dilontarkan dari gunung berapi yang meletus dahsyat… Sebelum batu-batu membara yang terlontar ke udara itu jatuh menyentuh bumi, sekali lagi kusilangkan, kuputar dan kuhentakan kedua tanganku dengan keras…akibatnya sungguh luar biasa… bebatuan panas membara itu seperti ditiup angin prahara,… taufan,… keras terlontar menghantam pepohonan besar di pinggir hutan itu…pepohonan itupun tumbang , dan sebagian lagi menyala karena panasnya api bebatuan tersebut…

Aku terdiam, hampir tak percaya menyaksikan kehebatan ilmu ini… ilmu yang dapat aku kuasai dalam waktu yang cukup singkat..namun aku yakin yang aku kuasai ini bisa jadi jauh lebih sempurna dari apa yang mampu dilakukan oleh Kyai Naga Geni sendiri. Sepanjang pertempuran ku melawan dirinya, aku tidak pernah merasakan hantaman prahara. Memang terasa getar udara yang menusuk dibarengi dengan panasnya api dari telapak tangannya..tapi hanya sebatas itu… kini aku mampu menyempurnakannya dengan mengembangkan inti ilmu prahara nya… dorongan dan putaran anginnya dapat menggoyangkan bahkan meremas sebuah batu besar… dorongan angin tersebut akan dapat melontarkan lawan keudara dan menjatuhkannya menghujam bumi…..
Aku tertawa keras menyadari kesempurnaan pencapaianku ini….


INILAH AKU SANG PENGUASA….

AKU PALING SEMPURNA SE DUNIA……..
KU KERINGKAN LAUTAN……..
KU RATAKAN PEGUNUNGAN…..
KU SINGKIRKAN DIRIMU
PENGHALANGKU…….
KARENA AKULAH SI RAJA …………
PENGUASA JAGAD RAYA……
…………………………………
……………………………………….

Baru saja menguasai ilmu ini, Rasanya Kerinduan terjawab sudah !!!! lalu apa ???


Bersambung….

TAPAK PRAHARA DAN KEPASRAHAN (*)

Hujan masih mengguyur dengan amat derasnya, air seolah-olah ditumpahkan dari lautan…tak ada habisnya…petirpun berulang kali terlihat menyambar, menyala, berkilat…menggelegar.. sementara anginpun sudah berubah menjadi badai yang menerbangkan seluruh ranting, daun termasuk air yang tertumpah. Bulan dan bintang tak terlihat sama sekali. Malampun menjadi semakin larut. Aku mengumpat pelan saat selembar daun yang terbawa badai menyambar mukaku, menutupi pandanganku yang memang sudah sangat samar………………….

Saat aku dengan cepat berusaha menyingkirkan daun itu, sebuah sengatan keras dan panas terasa menghantam bahuku. Aku terdorong kebelakang, dan sengaja membiarkan tubuhku berputar dan jatuh terguling ditanah yang basah dan berbatu.

Sementara itu, dua langkah dihadapanku, berdiri seorang pria berusia separuh baya yang baru saja berhasil menghantamkan tangannya yang merah membara ke bahuku, berhasil menembus lapisan-lapisan perisai ilmu setengah matang tak kasat mata yang menyelimuti seluruh badanku. Terlihat samar-samar lelaki itu kemudian meloncat dengan cepat menjejakkan kaki kirinya disebuah batu besar hitam yang tergeletak membisu.. Sambil mengembangkan tangan kirinya kesamping tubuhnya dan menekuk kaki kanannya, secepat kilat Ia mengayunkan tangan kanannya yang semakin membara dan bercahaya…. walaupun didalam guyuran hujan dan hempasan badai ini… Ayunannya tepat mengarah ke kepalaku…

…….…..Tapak Prahara…….…….

…. benar-benar aku merasakan betapa dahsyatnya ilmu itu….. ilmu yang justru menjadi semakin buas di tengah badai dan taufan seperti ini. Ilmu yang mengandalkan penyerapan tenaga panas dan getaran tenaga udara… ilmu yang sebenarnya sudah amat sulit ditemukan dimasa ini.

Aku mengeluh didalam hati, menyesali keangkuhan ku menerima tantangannya ditepi hutan kecil ini. Eyang Guruku sendiri pernah mengatakan bahwa beliaupun akan berpikir dua kali sebelum berhadapan dengan lawanku ini, terutama bila harus membenturkan langsung dirinya dengan Tapak Prahara… Terbayang pula dua orang guru ku yang lain, yang sudah berusaha keras menuangkan segenap ilmu kanuragan mereka kepada ku, dengan hampir sempurna… sempurna kegagalannya…

Menurut mereka, ada dua hal yang bisa membuatku menjadi seorang yang mumpuni dalam olah kanuragan, yaitu bakat dan keinginan… sedangkan kedua hal itu, aku sama sekali tidak punya… yang aku miliki hanya rasa kewajiban yang ditanamkan ayahku padaku sejak dini, untuk menguasai segenap kemampuannya. Ayahku adalah seorang pendekar yang cukup disegani di kampung kami..sayangnya, beliau berpulang terlalu cepat..bahkan sebelum tanganku cukup terampil merobek jantung… maksudnya adalah gambar jantung yang ditempelkan ayah di sebuah bantal kapuk yang digantung di belakang rumah.! Setelah beliau tidak ada lagi, ke dua guruku tadi, yang masih merupakan saudara seperguruan ayah sendiri, mengambil alih tugas ayahku memberiku pelajaran.. “Siapa lagi yang akan meneruskan nama ayahmu, kalau bukan kau..putera semata wayangnya…!” begitu selalu pesan kedua guruku.. Namun, ternyata.. kemampuanku jauh dari harapan mereka… jurus seribu naga serta 10 jurus malaikat menari, yang merupakan jurus-jurus kebanggaanku hanya menjadi cemooh murid-murid guruku yang lain. Gerakan kakiku menurut mereka terlalu lambat, badanku pun tidak dapat meliuk dengan irama yang serasi dengan gerakan, ayunan serta hentakan tanganku.

Berhadapan dengan ilmu tapak prahara yang terayun deras kekepalaku, dan dalam posisi tubuhku yang sedang terdorong dengan keras ini, terasa bahwa seluruh kata-kata ke dua guruku, dan cemooh teman-temanku adalah sebuah kebenaran yang sejati. Otakku bereaksi dengan cepat, memerintahkan kedua tangan ku untuk segera bersilang didepan dahi sambil menghentakan energi murni dari chakra solar plexus, …tapi seolah tanganku tidak bisa berjalan selaras dengan perintah otakku… tanganku terasa begitu lamban dan kaku, sedangkan energi hempasan tangan lawanku yang dilambari ilmu tapak prahara itu, walau masih berjarak selangkah dihadapanku, panasnya sudah terasa menusuk sampai ubun-ubun…

Kali ini aku benar-benar memejamkan kedua mataku…seluruh jurus sudah aku mainkan.. bahkan lapisan ilmu yang membentengi tubuhku, yang seharusnya dapat melindungi tubuhku dari sentuhan kasar dan halus.. yang mana ilmu ini merupakan hasil kesabaran Eyang Guru ku menuntun pernafasanku di malam-malam yang sunyi ditepi sungai, sudah terpecahkan sejak awal perkelahian ini… bahkan sebelum ilmu tapak prahara lawanku ini diterapkannya…

Oya, agar lebih jelas…sedikit aku gambarkan tentang Eyang Guru ku ini. Jangan dikira bahwa beliau ini adalah seorang lelaki tua dengan janggut panjang berwarna keperakan, menggunakan pakaian dan sorban berwarna putih pula… Eyang guru adalah seorang wanita, wanita yang sudah sangat tua..Namun dari bentuk fisik dan wajahnya masih terlihat berusia kurang dari setengah abad. Beliau tidak terlihat cantik.. tapi sangat bersih dan seolah mengeluarkan sinar kesejukan. Beliau adalah seorang yang amat dihormati, bukan saja dikampungku..tapi rasa-rasanya oleh penduduk di seluruh negeri..itupun menurut cerita dari beberapa kawanku.. karena seberapa besar sebenarnya negeri ini, terus terang tidak pernah aku ketahui… Di usia ku yang menginjak 23 tahun ini, Cuma 2 kampung lain yang pernah aku jelajahi… Yah paling tidak di kampung kami nama eyang guru sangat dihormati.

Konon, sejak ayah ku masih ada, Eyang Guru pun sudah terlihat seperti usianya yang sekarang. Hal ini dibenarkan oleh ke dua guru ku yang juga merupakan adik seperguruan ayahku.., merekapun amat menyegani Eyang Guru.. mereka mengatakan bahwa Eyang Guru adalah seseorang yang mumpuni baik dalam ilmu kedigdayaan maupun ilmu kejiwaan. Mereka pun mengatakan, bahwa seratus tahun lagi pun, wajah eyang guru tidak akan berubah,,tetap terlihat semuda sekarang. Aku amat mempercayai cerita mereka ini.. karena sejak kecil, seperti orang-orang lain dikampungku, ayah ku memang rajin mengunjungi eyang guru..dan aku selalu diajaknya.

Waktu ayahku wafat, eyang guru meminta ku untuk tetap sering mengunjunginya. Karena beliau sudah aku anggap seperti nenek ku sendiri, aku sering berkunjung tanpa mengenal waktu.. Namun demikian, selama itu aku tidak pernah melihat beliau memainkan satu jurus ilmu silat pun. Padahal, menurut banyak kabar yang aku dengar, Eyang Guru adalah seorang yang tak terkalahkan dalam kanuragan. Beliaupun tidak terlihat sama sekali tertarik untuk mengajariku ataupun melihat hasil latihan silatku.. Uniknya, Eyang Guru justru sering mengajakku bermain di tepi sungai dibelakang pondoknya yang asri,..terutama di malam hari yang sepi. Disana Eyang Guru hanya membimbingku untuk mengatur nafasku.. menurut beliau, cara bernafasku amat boros… mungkin karena aku memiliki lubang hidung yang memang besar pikirku… Tapi beliau meyakinkanku, bahwa ini tidak ada hubungannya dengan besarnya lubang hidung, lebarnya mulutku…ataupun bahkan besarnya perutku. Lalu untuk apa aku harus berhemat, bila udara didunia ini sedemikian banyaknya..bukankah kita tidak perlu khawatir orang lain akan kehabisan ? protesku suatu ketika…..eyang guru hanya diam, mungkin beliau juga tidak tahu jawabnya.

Selain pengaturan nafas, Eyang Guru lebih banyak mengajakku merenung dan berpasrah diri, sambil membayangkan betapa besar dan indahnya alam ini. Betapa banyaknya cahaya berwarna warni disekitar kami yang kemudian dibayangkan memasuki tubuhku, serta menyelimutinya. Dikemudian hari, dengan bantuan penyelarasan dari eyang guru, aku mampu memadatkan selimut cahaya yg menyelubungiku secara tak kasat mata itu, kapanpun aku mau…Ini membuat tubuhku seolah tahan terhadap segala jenis pukulan ataupun serangan. Selimut atau perisai itulah yang sebenarnya mampu membuatku bertahan agak lama menghadapi lawanku ini…..TAPI HANYA ITU…. Perisai itu pun kini sudah pecah, dan lawanku sudah terlanjur merasa tidak sabar, dan sudah mengetrapkan ilmu tapak praharanya ditingkat tertinggi…..Eyang Guru tidak pernah memberikan kemampuan apa-apalagi yang bisa aku gunakan saat ini dari lawan yang sebenarnya justru disegani bahkan dihindari oleh eyang guru sendiri….

Aku tidak bisa mengandalkan kemampuan ku yang terbatas ini lagi.. aku tidak bisa pula menggantungkan harapan pada guru-guru ku yang lain, entah saat ini mereka berada dimana… kalaupun mereka berada disini, aku pun tidak yakin bahwa kami bertiga bisa menahan hantaman gelombang pukulan lawanku ini. Satu-satunya yang terbayang olehku hanyalah wajah eyang guru yang bening dan sejuk…ingin rasanya aku berteriak memanggil namanya...tapi mulutkupun terasa terkunci. Sekali lagi penyesalan yang kuat menghantam jantungku… aku menyesal mengabaikan peringatan kawan-kawan seperguruanku, mengabaikan peringatan Eyang Guru untuk sejauh mungkin menghindari benturan dengan lawanku ini… lawan yang sebenarnya memang bernafsu melenyapkanku dari muka bumi, hanya karena aku adalah putera satu-satunya dari ayahku. Lawan yang sebenarnya tidak diketahui keberadaannya sebelumnya, dan muncul tiba-tiba dari belakang kandang kambing rumahku.. lawan yang sudah berhasil membuat darahku mendidih karena menghina kambing satu-satunya milikku.. sehingga membuatku menerima tantangannya… tantangan dari seorang yang ternyata menyimpan sebuah ilmu yang dahsyat, yang konon telah menewaskan banyak pendekar diseluruh negeri….mungkin termasuk ayahku…tapi baik Eyang Guru, maupun kedua guruku yang lain tidak pernah mau bercerita banyak soal ini. Ayunan Tapak Prahara yang bila disentuhkankan kepada batu akan hancur menjadi debu, yang dapat membuat pohon-pohon menjadi layu hanya tersentuh oleh gelombangnya itu, kini semakin dekat kekepalaku…mengarah, diarah tepat di dahiku… aku bisa merasakannya semakin dekat, walau mataku terpejam justru semakin rapat. Hilang seluruh reflekku, gerak naluriku.. hilang lah seluruh jurus seribu naga, bahkan bila ada sejuta naga sekalipun pun belum tentu dapat menyelamatkanku…

…………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………..

KEPASRAHAN

Kulepaskan seluruh kehendakku

Kupasrahkan diriku pada Nya

………

Kutebarkan seluruh sinar hatiku, sinar jantungku… ke alam sekitarku

Kuserahkan diriku bulat-bulat menghujam bumi

Seluruh sel ku menyatu dengan Bumi

Berpadu…

………

Wahai bumi..terimalah jasadku

Wahai langit terimalah jiwaku

Wahai Udara…kukembalikan Nafasku padamu

……………………………….Tak ada Tarikan Nafas

……………………………….Tak ada pembuangan nafas

………………………………..Tak ada Penahanan Nafas.

Nafas Kosong…NOL…….

Wahai Yang Kuasa… Kuserahkan Noda dan Dosa ku, Terimalah Amalku

Yaa Tuhan Pencipta seluruh Alam Semesta…………

Ku syukuri semua nikmat Mu….. Terima kasih Engkau tidak membuat pertempuran ini menjadi mudah……………………………………………

TOTAL Hampa…TOTAL Sunyi….TOTAL Hening…

………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Seluruh cahaya dari dalam bumi perlahan terasa merayap naik, kemudian mengangkat tubuhku, tubuhku seolah melayang keatas..ringan….

Tiba-tiba sebuah sentuhan yang lembut terasa memegang tanganku.. getaran halus merambat naik dan mengalir keseluruh tubuhku.. terasa aman, damai serta segar sekali.. Ketika kubuka mataku, matahari sudah mulai bersinar hangat.. hujan badai sudah berhenti, hanya menyisakan tetes-tetes air yang masih berjatuhan dari pepohonan.

Aku terkejut melihat Eyang Guru sedang berjongkok disampingku yang berbaring diatas tanah yang becek.. Eyang Guru masih memegang tanganku ketika dia tersenyum dan berkata.. “bangunlah…hari sudah siang..” katanya. Aku memandang sekelilingku.. tampak pohon-pohon dahannya patah berserakan, banyak yang hancur dan layu.. tanah seperti sawah sehabis dibajak…semua itu rupanya adalah hasil kebuasan pertempuran kami semalam..

Tak Jauh dari tempatku berbaring, tampak sesosok tubuh diam tak bergerak. Dia adalah lawanku tadi. Agak sulit bagiku untuk mencoba mengingat-ingat sepenuhnya apa yang terjadi… Tapi Eyang Guru yang justru menceritakan bagian akhir dari pertempuran tadi. “ Jadi Eyang yang membantu ku, tanya ku ?’ Eyang Guru hanya tertawa kecil…”Tidak…” katanya kemudian. “ Waktu aku datang, pukulan tapak prahara itu sudah hampir membentur kepalamu, dan aku tidak sempat untuk membantu mu.”.katanya. Aku menjadi terheran-heran… “ lalu kenapa dengan lawanku ?” tanyaku… “Engkau luar biasa..”, kata Eyang… “engkau sudah dapat mengalahkannya, mengalahkan musuh yang belum tentu aku sendiri bisa menghadapinya….!”, sambung Eyang Guru. “Kepasrahan Totalmu pada Nya, serta penyatuan dirimu pada alam semesta telah memancarkan sinar ke agungan yang seketika meluluhkan ilmu dari lawan mu itu… saat ini, walau dia masih hidup, dan sebentar lagipun akan sadar kembali dari pingsannya, tapi dia sudah tidak dapat lagi menggunakan ilmu kesaktiannya sama sekali…” Aku justru terpana dan mengucapkan puji syukur mendengar penjelasan Eyang Guru…jelas apabila harus mengulangi lagipun, belum tentu aku mengerti caranya… tapi yang jelas, bimbingan dari Eyang Guru, yang justru hanya aku anggap remeh, telah menyelamatkanku dari kemungkinan paling buruk yang dapat terjadi…


…SELESAI…

Sekedar selingan..dipersembahkan untuk anak-anak Lambung Mangkurat (Chenk Gank).

* Terinspirasikan dari karya-karyanya SH Mintardja, Senopati Pamungkasnya Arswendo Atmowiloto dan Ketoprak Humornya Srimulat.

Salam

Powered By Blogger

WeLCoMe....


SELAMAT DATANG ....
ANDA BERADA DI HALAMAN UTAMA DARI

" MY WONDERFUL WORLD ".

DARI HALAMAN UTAMA INI, ANDA DAPAT
MENG-AKSES TULISAN-TULISAN RINGAN
SAYA (CoRat- CorET) dan (Kata Hati)

ATAU TULISAN YANG INSPIRATIF TENTANG DUNIA MARKETING DAN MANAGEMENT (MarKetinG & ManAjeMeN Tips) SERTA PENDAPAT DARI PARA PAKAR ATAU PUBLIC FIGURE (BinTang TaMu) ,

SEDIKIT BANYAK TENTANG SAYA (Personal) DAN
HAL-HAL LAINNYA YANG MENARIK.

SALAM
Arief


Powered By Blogger